Tujuan Pendidikan Seni SMP

Posted: Oktober 14, 2009 in SENI BUDAYA

Mari  kita perhatikan tujuan mata pelajaran seni budaya, khususnya di tingkat SMP, maka kita akan menemukan ada 4 item yaitu :
1. Memahami konsep dan pentingnya seni budaya
2. Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya
3. Menampilkan kreativitas melalui seni budaya
4. Menampilkan peran serta dalam seni budaya dalam tingkat lokal, regional, maupun global.

Itu semua jelas tercantum dalam lampiran PERMEN 22 TH 2006 tentang STANDAR ISI sebagai landasan hukum bagi guru Seni Budaya ketika dia melaksanakan pembelajaran di sekolah.

Selanjutnya dalam lampiran PERMEN itu pun dijelaskan tentang ruang lingkup mata pelajaran seni budaya sebagai berikut :

Mata pelajaran Seni Budaya meliputi aspek-aspek sebagai berikut : 1) Seni rupa, mencakup pengetahuan, keterampilan, dan nilai dalam menghasilkan karya seni berupa lukisan, patung, ukiran, cetak-mencetak, dan sebagainya. 2) Seni musik, mencakup kemampuan untuk menguasai olah vokal, memainkan alat musik, apresiasi karya musik. 3) Seni tari, mencakup keterampilan gerak berdasarkan olah tubuh dengan dan tanpa rangsangan bunyi, apresiasi terhadap gerak tari. 4) Seni teater, mencakup keterampilan olah tubuh, olah pikir, dan olah suara yang pementasannya memadukan unsur seni musik, seni tari dan seni peran.

Sampai di sini, kita (saya) sampai pada suatu pemahaman bahwa sebagai guru seni budaya saya punya kewajiban untuk mengajarkan materi seni budaya secara utuh agar tujuan mata pelajaran seni budaya tidak hanya tercapai secara parsial, terbatas pada empat atau bahkan salah satu dari keempat aspek ruang lingkup mata pelajaran seni seperti diutarakan di atas. Jadi, dalam dataran konsep yang bersifat apresiatif dengan sasaran utama ranah kognitif dan lebih jauh lagi ranah afektif, seorang guru seni budaya dituntut untuk menguasai konsep mata pelajaran seni budaya secara utuh.

Dengan kata lain yang lebih operasional, seorang sarjana seni musik, atau sarjana seni rupa, atau sarjana seni teater, atau sarjana seni tari, dan sarjana jurusan seni lainnya, jika dia sudah bertugas sebagai guru seni budaya di sekolah seyogianya harus berperan sebagai GURU SENI BUDAYA. Ia harus menguasai konsep yang utuh tentang seni budaya. Meskipun background pendidikannya sarjana seni musik misalnya, ia juga dituntut untuk menguasai konsep-konsep dasar cabang seni lainnya yang merupakan unsur-unsur pembangun seni budaya secara umum.

Namun sayang seribu kali sayang, tujuan mata pelajaran seni budaya yang menurut hemat saya sudah sedemikian momot, serta memiliki daya cakup yang luas itu kemudian dikerdilkan lagi dengan diktum yang berbunyi sebagai berikut :

“Di antara keempat bidang seni yang ditawarkan, minimal diajarkan satu bidang seni sesuai dengan kemampuan sumberdaya manusia serta fasilitas yang tersedia. Pada sekolah yang mampu menyelenggarakan pembelajaran lebih dari satu bidang seni, peserta didik diberi kesempatan untuk memilih bidang seni yang akan diikutinya.

Diktum terakhir itu menurut saya tidak sejalan lagi dengan tujuan mata pelajaran Seni Budaya karena “tawaran” yang ada di sana diarahkan kepada memilih aspek bidang seni yang ke sananya membawa implikasi terjadinya “pemerkosaan” kepada peserta didik. Coba kita bayangkan jika di satu sekolah hanya ada guru seni dengan background pendidikan sarjana seni rupa misalnya, maka ia akan mengajarkan seni rupa kepada peserta didiknya yang nota bene tidak semuanya punya minat dalam hal seni rupa.

Hal ini lebih diperparah lagi dengan kondisi obyektif pedoman umum pembelajaran seni budaya yang ada. Jika kita rajin menelaah dokumen Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang menjadi acuan untuk menyusun silabus dan RPP pembelajaran seni budaya, di sana kita akan menemukan rangkaian SK dan KD yang sudah sedemikian ekslusif dan terpolarisasi pada kekhususan empat cabang seni (rupa, tari, musik, teater). Kita akan kesulitan mencari landasan hukum dalam bentuk SK atau KD jika mau menguraikan materi tentang keragaman bentuk seni budaya. Lebih susah lagi jika kita mau menguraikan realitas Seni yang berbasis budaya masyarakat Indonesia yang note bene tidak mengenal pemisahan secara tegas antara keempat cabang seni seperti dikelompokkan dalam lampiran PERMEN di atas.

Dengan latar belakang kondisi seperti itu, tidaklah mengherankan jika muncul fenomena-fenomena sumbang terkait mata pelajaran seni budaya, di antaranya sebagai berikut :
– Guru Seni Budaya mengajar tanpa kelengkapan administrasi guru seperti silabus atau RPP.
– Ada Guru Seni Budaya yang Administrasinya lengkap tapi realitas operasional pembelajarannya tidak sesuai dengan silabus atau RPP yang dibuatnya (ya… formalitas saja mungkin)
– Peserta didik dalam pembelajaran seni budaya mungkin enjoy-enjoy saja, tapi kurang bisa diajak berpikir “agak serius” tentang mengapresiasi bentuk-bentuk seni budaya yang tidak selaras dengan “minatnya”.
– Ada kelompok peserta didik yang kebetulan eksis dalam salah satu bidang seni tetapi kelompok itu “mengidap” penyakit alergi terhadap bidang seni yang lain, bahkan alergi terhadap salah satu aliran musik yang tidak diminatinya.
– Betapa susahnya mengajak peserta didik untuk mengapresiasi bentuk-bentuk seni budaya bangsanya sendiri.

Saya yakin sekali, tidak sedikit guru seni budaya yang sudah berpengalaman, menghasilkan karya-karya besar baik karya langsung dirinya maupun melalui para muridnya, oke-oke saja dalam melaksanakan tugas, dan punya kharisma tersendiri di sekolah atau di lingkungan dinas pendidikan setempatnya. Gimana ya resepnya biar lebih Pede ngajar tapi nggak dibingungkan juga dengan landasan hukum seperti yang saya urai di atas.

…………………………………………………….

Maka sebelum saya lanjutkan pembahasan ini, saya ingin menyapa teman-teman Guru Seni Budaya yang masih punya greget dalam urusan berfikir serius tentang mata pelajaran Seni Budaya yang katanya hanya pelajaran ANAK TIRI itu.

Terus terang, melalui forum ini saya ingin belajar dan akan mengapresiasi pengalaman atau ide apapun yang muncul dari sesama teman guru seni budaya.

Latar belakang pendidikan saya sarjana, punya sertifikat akta mengajar, tapi bukan jurusan seni apapun, karena saya sarjana jurusan tafsir-hadis. Selama 7 tahun belajar jadi guru kesenian di 4 sekolah SMP-SMA saya punya prinsip mengajar seni itu seperti mengajar pendidikan agama.


About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s